Minggu, 08 April 2012

Konflik Dua Dunia Dalam Rambut Slentem



Seperti kebanyakan karya Danarto, naskah drama Obrok Owok Owok Ebrek Ewek Ewek (O3E3) juga kental dengan nuansa mistik. Dunia baru yang diciptakan menghancurkan konvensi dunia yang sangat mengagungkan nalar. Karya Danarto berada di luar wilayah tersebut. Namun bangunan kondisi tersebut masih berpijak pada realitas yang sesungguhnya.

Kelompok Dramaturgi 7 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) mementaskan O3E3 di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim Jalan Gentengkali, Rabu (11/1), lalu. Menyaksikan karya tersebut, langsung mencerabut ingatan pada kumpulan cepren Danarto, salah satunya yang berjudul “Godlob”. Penuh aroma mistik. Suasana itu juga yang coba disuguhkan dalam pementasan itu dengan menebar aroma dupa dalam ruangan.

Pementasan ini berkisah tentang Tomi (Arif Hakim) yang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya dengan mengambil objek desain batik. Ia menciptakan batik dengan nama Silhouette of Your Body (dalam naskah asli Shadow of Your Smile). Ia mendekati seorang juragan batik bernama Sumirah (Mahasti Budi) agar desain barunya tersebut laris. Sedangkan untuk kepentingan kelulusan, Tomi memacari anak Profesor (M Apridio) yang bernama Kusningtyas (Maria).

Diantara mereka masih ada tokoh Ati (Zaratul ilmia) sebagai teman Sumirah dan Slentem (Andi Pratama) yang menjadi tokoh sentral lakon ini. Slentem adalah tukang sapu Pasar Bringharjo. Namun Slentem bukan tokoh biasa. Ia juga menjadi benang merah dua setting panggung yang berbeda; rumah Profesor dan Pasar Bringharjo.  Slentem juga narator yang bisa beralih-alih dari dunia panggung dan dunia penonton. Slentem menjadi Sang Mahatahu sekaligus manusia biasa. Bahkan di akhir cerita muncul Slentem Dua (Zulfira Hildana)

Sisi kanan panggung dibangun setting pasar dengan dagangan kain batik yang didisplay. Setting realis Sisi kiri panggung adalah rumah Profesor. Rumah ini dibangun dengan properti non-realis (sebab memang tidak absurd). Ruang tengah, ruang tamu, teras, serta ruang lain bisa terlihat karena tanpa tembok pembatas. Pintu dan jendela hanya kusen tanpa papan/triplek. Lampu menggunakan warna netral semuanya membuat kedua setting itu seolah satu tempat.

Agak membingungkan bagi penonton yang belum pernah tahu atau membaca atau melihat O3E3. Peristiwa di dua tempat yang berbeda itu terjadi linier. Masing-masing tokoh adalah realis di tempat masing-masing. Hanya Slentem yang bisa berpindah-pindah melewati ruang realitas yang disuguhkan dalam pementasan. Selain ditandai dengan perpindahan blocking, juga bisa terbaca melalui dialog Slentem yang bisa menyahuti tokoh yang ada di pasar maupun rumah. Hanya Slentem yang dimake up seperti badut, tokoh lainnya make up realis.

Cerita yang dibangun dalam pementasan tersebut sayangnya terganggu sound feedback dari awal hingga akhir. Mungkin karena letak mikropom gantung yang terlalu rapat. Kendala ini seharusnya tidak terjadi jika kualitas vokal para aktor mumpuni. Penggunaan mikropon yang diharap bisa membantu kelemahan vokal tersebut malah menjadi bumerang. Dialog yang kurang keras itu malah tertimpali denging noise yang memekakkan telinga. Namun untung masih tertolong penampilan Slentem yang bisa dianggap tidak buruk.

Jalinan konflik terbangun ketika Profesor tidak meluluskan Tomi. Tak hanya Tomi yang marah, tapi juga Sumirah. Sumirah penasaran ingin tahu seperti apa Profesor yang tidak mau meluluskan kekasihnya itu. Profesor pun masih penasaran dengan hubungan Tomi dengan Sumirah. Profesor juga memikirkan nasib anaknya. Baik Profesor maupun Sumirah sama-sama meminta bantuan Slentem yang dianggap memiliki semacam kelebihan. Pada waktu dan tempat yang berbeda, Slentem memberikan sehelai rambutnya kepada Profesor dan Sumirah.

Slentem hanya iseng. Ia tahu rambutnya tersebut tidak bertuah. Namun yang terjadi ternyata di Sumirah bisa bertemu dengan Profesor. Pertemuan mistik -dua dunia yang disatukan- ini terjadi di atas tempat tidur. Tapi hanya Profesor yang bisa melihat Sumirah, begitu juga sebaliknya. Keberhasilan pertemuan malah membuat Slentem bingung. Mulailah dibangun kecurigaan ada pihak ketiga yang memiliki kekuatan gaib tersebut. Adegan mistik ini juga dimunculkan saat Sumirah maupun Profesor menggambar desain batik. Kapur yang mereka pegang berpindah tangan secara bergantian.

Konflik berlanjut namun berubah. Slentem yang tidak terima karena Tomi tidak lulus. Slentem berkirim surat kaleng ke Profesor namun tidak ditanggapi. Slentem pun mendatangi rumah Profesor untuk melakukan perhitungan. Namun adegang hanya sampai eyel-eyelan selanjutnya black out. Pada ending muncullah Slentem Dua yang diwujudkan pada sosok Nyonya Profesor dengan make up badut, sama dengan Slentem. Ternyata Slentem Dua itulah yang memiliki “kekuatan” melebibih Slentem.

Cerita yang bagus dari naskah asli sayangnya harus terganggu dengan hal-hal sepele dan mendasar. Teknik keluar masuk aktor yang janggal, sound yang berisik, musik yang tak terdengar jelas, hingga kualitas vokal yang buruk. Namun sebagai suatu penampilan dari para pemula (sebab pementasan ini dilakukan sebagai pengganti tugas ujian),  dengan persiapan hanya tiga bulan, semua kekurangan itu bisa sedikit dimaklumi.

“Memang banyak kendala yang kami hadapi. Namun kami tetap berusaha,” kata Zulfira Hildana yang juga wakil pimpinan produksi pementasan ini. Diterangkan, memang ada dua jenis konsep artistik yang digunakan. Pertama merujuk pada panggung yang menyatukan dua panggung; rumah Profesor dan Pasar Bringharjo. Sedangkan kedua merujuk pada konsep penyutradaraan yang ingin menggabungkan tiga masa; masa lalu, kini, dan masa mendatang.

Masa lalu itu terdapat di atas panggung yang sedang dimainkan. Sedangkan yang sekarang adalah saat Slentem turun ke luar panggung dan bersolilokui. Masa yang akan datang dicapai saat Slentem berdialog dengan penonton.  Sementara untuk setting rumah Profesor sebenarnya harus realis. Namun dilakukan adaptasi sehingga menjatuhkan pilihan dengan menggunakan properti yang semirealis.

Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan penampilan dua dunia bersama-sama dalam suatu karya sastra bukanlah hal asing dalam sastra mistik. Tetapi keistimewaan cerita-cerita Danarto ini terletak pada cara penyampaian. Biasanya, cerita-cerita berbau protes sosial atau mistik disampaikan  dengan tanpa kelakar, tentunya karena pengarang beranggapan masalah itu penting sehingga harus disampaikan dengan bersungguh-sungguh.

Namun Danarto memilih langkah yang berbeda. Ia sengaja menyisipkan berbagai kata, ungkapan, dan kalimat yang menyebabkan suasana ceritanya tidak terlalu ketat. Danarto sengaja memasukkan kelakar jika suasana yang dibangunnya sudah mencapai puncak. Danarto juga senang meledek kecenderungan manusia yang mati-matian  berpegang teguh pada nalar.zaki zubaidi

Tidak ada komentar: