Minggu, 08 April 2012

Karya Jujur Meski Minim Simbol


Memamerkan sebuah karya (baca:seni rupa) membutuhkan keberanian. Ketika karya tersebut dipajang untuk memberi ruang interaksi dengan masyarakat, maka segala bentuk apresiasi akan muncul. Entah itu cemooh atau puji, kreator harus bisa berbesar hati.

Keduanya bisa menjadi cambuk untuk meningkatkan kualitas atau juga sekaligus membuat semakin terpuruk. Tapi jika karya yang jujur dari sebuah proses belajar itu yang dipamerkan, maka apapun hasilnya patut dan wajib dianggap positif. Karya-karya yang masih harus banyak dikritik itu ditampilkan dalam pameran seni rupa "Ekspresi Rupa Buana" yang digelar di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya Jalan Pemuda pada 1 hingga 5 Februari 2012.

Mengutip Susanne K.Langer,  karya seni meskipun dalam arti tertentu mempunyai kemiripan dengan alam, namun ia sudah tercabut dari kenyataan alamiah. Pada seni terdapat prinsip kelainan dari alam, yang membuat seni itu sungguh-sungguh berdiri sendiri sebagai ciptaan. Prinsip ketercabutan dari kenyataan alamiah menjadi prinsip penciptaan seni.

Bertolak dari asumsi bahwa karya seni adalah hasil simbolisasi manusia, maka prinsip penciptaan seni mengambil pola dari prinsip simbolisasi atau pembentukan simbol. Intuisi atau inspirasi memegang peranan yang penting di dalam aktivitas mencipta. Dari pengalaman estetik, manusia memperoleh kesan dalam kehidupannya. Dan manusia cenderung ingin mengabadikan kesan yang dimilikinya.

Memang banyak karya yang dinikmati tak lebih dari sebuah hiasan. Tapi masih ada juga beberapa karya menarik, misalnya lukisan berjudul "Wayang Beber" karya Kusnuddin Jurri mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Adi Buana. Lukisan ini menampilkan sosok tokoh pewayangan. Namun tak jelas siapa tokoh yang dimaksud. "Saya tak tahu siapa tokoh wayang itu karena saya juga tidak merujuk pada yang ada. Yang jelas salah satu ciri wayang beber adalah kedua matanya ditonjolkan. Tidak seperti wayang kulit yang hanya satu mata," katanya.

Tentu saja ini ungkapan jujur dan penuh keberanian. Tanpa peduli pada rahim penciptaan tokoh tersebut karya itu menyampaikan sebuah keberanian. Wayang itu menggunakan pakaian khas Jawa dengan pose seperti hendak menerjang bahaya. Matanya yang menonjol terkesan melotot; sebuah amarah. Lukisan ini tidak menggunakan pewarna yang lazim digunakan pelukis. Kusnuddin menggunakan pewarna batik dalam karyanya itu.

Ada juga karya yang mencoba bermain di wilayah ambigu. Lukisan berjudul "Jebakan Hidup" karya Danang Dwi Kusuma yang menawarkannya. Lukisan perempuan telanjang dengan posisi telungkup memeluk lutut. Tubuh itu separoh tertutup kain putih dengan lilitan tali warna merah. Ia berada di sebuah ruang yang juga temboknya berwarna merah. Di bagian atas ata jendela dari jeruji besi yang membiaskan sinar dari luar. Mungkin di dalam sebuah ruang tahanan. Tali yang melilit tubuh perempuan terikat pada jeruji besi jendela.

Jebakan hidup bisa dimaknai jebakan yang hidup, tapi juga bisa dianggap jebakan dalam sebuah kehidupan. Perempuan itu adalah objek yang terjebak dalam ruang, namun juga memungkinkan sebagai umpan yang bisa menjebak siapa saja. Sejarah perempuan dalam sebuah kekuasaan sangat signifikan. Betapa perempuan bisa membuat Napoleon Bonaparte tersungkur dari kursi kejayaannya. Perempuan mahluk yang lemah yang juga sekaligus bisa sangat berkuasa. Merah warna cinta, merah juga bisa amarah.

Ada juga lukisan yang didominasi warna putih berjudul "Kesepian" karya Anggi. Menggunakan media lilin, lukisan ini menggembarkan sosok terpekur dengan memeluk lutut dalam posisi duduk. Goresannya hanya semacam sketsa hitam yang kabur. Sosok itu membelakang lilin padam yang di atasnya ada sebuah topeng warna biru.

Dominasi dasar putih dengan sketsa hitam cukup menarik dan menjadi agak nakal untuk menggambarkan kesepian. Kesepian biasanya disampaikan dalam warna-warna gelap. Namun penggunaan lilin sebagai bahan sekaligus salah satu objek membuat karya ini begitu tragis. Lilin yang menyala bisa menjadi penerang. Ia membakar dirinya sendiri hingga tandas. Kesepian yang begitu mengerikan meskipun tanpa dominasi warna hitam.

Namun sayang, pilihan warna biru pada topeng membuat karya ini agak sedikit terganggu. Topeng ini hanya terkesan seperti stempel tinta. Menjadi tidak menyatu dengan dua objek lainnya. Mungkin lebih bermakna jika menggunakan warna hitam atau bahkan juga putih. Serupa bayang-bayang Tuhan pada kelam. Tapi mungkin saja kreator memiliki maksud lain yang tidak mudah terpahami.

Selain lukisan ada juga karya patung tanpa judul. Empat patung ini merupakan bentuk kepala masing-masing kreatornya. Meraka adalah  Putri Nila Kusuma, Kusnuddin Jurri, Agustina Wulandari, dan Ratu Eka. Patung dibuat dari bahan semen yang dicor. Keempatnya menyampaikan ekspresi yang berbeda. Tapi totalitas warna hitam akhirnya menjebak seluruh ekspresi tersebut pada kemurungan.

Kalaupun tersenyum, senyum itu seperti hanya menyembunyikan luka. Ada juga yang tertawa, tapi tawa itu juga menyampaikan kegetiran. Ada yang tenang tapi malah seperti memendam dendam. Ada juga yang berteriak, tapi yang "terdengar" jerit kesakitan.  Memang begitulah risiko sebuah pilihan.

Kata Hariadie, karya yang dipamerkan merupakan hasil studi selama kuliah di Jurusan Seni Rupa Fakultas Keguruan Ilmu PendidiAn Universitas Adi Buana Surabaya. Seba itulah karya-karya tersebut sifatnya masih belajar dan banyak kekurangan.

"Ibarat menabur benih kesenian ketika bersemi tinggal merabuknya. Seperti yang kami singgung, tatkala ingin merawatnya maka tumbuhlah pohon yang subur," kata Hariadie yang merupakan dosen pengampu mata kuliah tersebut.

Sementara itu Kusnuddin Jurri mengakui pameran ini merupakan proses studi tahap akhir, yaitu proses studi yang menuntut pembuktian aktualisasi diri pada masyarakat. "Inilah yang sedang kami lakukan. Sebuah tuntutan akademis yang mengharuskan mahasiswa seni rupa semester akhir mengapresiasikan karya yang dibuat selama proses studi," kata Kusnuddin yang juga ketua panitia pameran.

Ditambahkan, sebenarnya mata kuliahnya bukan "pameran studi", tapi lebih pada cara memanajemeni sebuah pameran. Tentu saja pamer karya menjadi tantang tersendiri. Bagi Kusnuddin, subtansi dari apresiasi itu adalah penilaian terhadap suatu karya yang tentu saja syarat dengan berbagai kekurangan dan kelebihan.  "Tentu berbagai kritik dan saran akan sangat bermakna bagi sukses atau tidaknya sebuah perhelatan kesenian yang bersifat apresiatif ini," katanya. zaki zubaidi

Tidak ada komentar: