Selasa, 13 November 2012

Semangat Kepahlawanan Dalam Bebiji Wijen


Berkesenian adalah panggilan jiwa. Butuh ketulusan dan pengabdian –yang mungkin- buta untuk bisa tetap eksis.  Tidak ada jenjang pendidikan yang mencetak seniman. Kesenian itu universal, milik siapa saja yang mencintainya. Pencari rumput yang cinta terhadap seni lukis pun mampu mencipta karya yang seksi-rumit. Meski sering kali karya seni itu tidak mendapatkan penghargaan (baca: apresisasi) yang sepadan.

Pria bertopi hitam kumal duduk menunduk di pintu kanan Galeri Surabaya. Menggunakan kaos oblong dan celan jins belel ia mengintip sebiji wijen melalui sebuah alat. Alat yang terbuat dari pipa paralon. Alat itu ternyata semacam kaca pembesar untuk melihat biji wijen dalam ukuran lebih besar dari aslinya. Tangan kanannya sibuk menggerakkan kuas kecil dengan bulu tangan di ujungnya. Sesekali ia mencelupkan kuas kecil itu pada kaleng berisi cat minyak.

Ia menjauhkan matanya dari alat pembesar itu. Matanya berkedip-kedip seperti mengurangi rasa lelah otot pengelihatannya. Setelah mengambil kuas yang sudah dicelupkan cat minyak, ia menguntip lagi lewat lubang paralon yang dimodifikasi sehingga tampak seperti mikroskop sederhanya. Sementara biji wijen itu terus disapunya dengan warna-warna. Sebuah proses melukis wajah pahlawan di atas biji wijen sedang dilakukan oleh pria yang bernama Murya Wijen.

“Tidak apa-apa, Mas. Saya juga butuh istirahat,” jawabnya saat Seputar Indonesia meminta waktu untuk wawancara. Setelah meletakkan kuas, Murya pun menuturkan sekelumit proses kreatifnya. “Kecil itu indah. Sebab itu saya lebih memilih media-media yang sangat kecil dalam melukis. Kalau melukis di kanvas itu sudah banyak dilakukan,” kata Mury. Ia merupakan salah peserta pameran November Art yang digelar di Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda Jalan Yos Sudarso, pada 5-12 November 2012.

Ia menjadi peserta pameran tersebut bersama 22 pelukis yang tergabung dalam Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati). Wurya mengaku sudah bosa melukis di kanvas. Rasa jenuh itu membuat Mury mencari tantangan baru agar memilik ciri khas dibanding dengan pelukis-pelukis yang lain. “Saya sempat melukis di biji beras,” kata berusian 35 tahun ini. Namun temuan baru itu tidak dilanjutkan lagi setelah mengetahui sudah ada pelukis yang menggunakan berasa sebagai media karyanya. Mury tidak mau meniru orang lain.

“Setelah tahu ada yang melukis di atas beras, saya berhenti. Saya bertekad agar bisa melukis di media yang lebih kecil dari pada beras. Akhirnya saya memilih biji wijen,” kata pria yang mengaku kini tinggal di Ngawi. Mury pun memulai petualangan seninya yang baru. Tapi tidak ada proses kreatif yang berjalan lancar. Lukisan pertamanya gagal. “Biji wijen itu kalau langsung dilukis cepat busuk. Itu disebabkan oleh kandungan minyak dalam wijen,” ungkapnya.

Mury pun mencari cara yang tepat untuk mengeringkan biji wijen. Satu-satunya cara terbaik untuk mengeringkan biji wijen adalah dijemur. “Biarkan kering secara alamiah. Sehingga proses mengeringkan pun tergantung cuaca,” kata pelukis otodidak ini. Mury ingat, pada tahun 2002 ia berhasil membuat lukisan pertamanya di atas biji wijen. Sebuah lukisan kaligrafi “bismillah” berhasil diselesaikan dalam waktu selama dua hari. “Tapi selama dua hari itu tidak nonstop. Saya juga refreshing beberapa saat. Bisa juga saya tinggal sebentar untuk mencari rumput. Ya, pekerjaan saya memang pencari rumput,” ungkapnya.

Hingga saat ini, sekitar 10 tahun, kurang lebih sudah 700 lukisan di atas biji wijen yang dihasilkannya. Karena kesetiaan itulah ia kemudian dikenal dengan nama Mury Wijen.  Dari ratusan lukisan di atas biji wijen itu, sudah bermacam gambar dihasilkannya. “Ya macam-macam. Ada lukisan logo klub sepak bola baik nasional maupu internasional hingga lukisan wajah tokoh-tokoh nasional,” kata pria yang sangat bersahaja ini.

Mury sampai saat ini masih menyimpan ratusan lukisannya itu dengan baik. Bagaimana cara menyimpan lukisan pada bije wijen itu bisa tahan lama? Mury tidak bersedia membeberikan teknikan penyimpanannya. “Wah, kalau itu rahasia perusahaan,” jawabnya diplomatis sambil tersenyum. Mury juga mengaku punya pengalaman pahit. Satu paket lukisan Wali Songo yang dihasilkannya pernah ditawar orang. “Sembilan biji wijen yang masing-masing bergambar wajah Wali Songo itu ditawar satu setengah juta,” tuturnya. Terang saja Mury menolak mentah-mentah penawaran tersebut karena itu sama saja tidak menghargai karyanya.

Dalam pameran November Art, Mury memajang lukisan wajah-wajah pahlawan nasional. Lukisan tersebut sengaja dibuatnya untuk menyambut Hari Pahlawan. Untuk satu lukisan, Mury membutuhkan waktu lima sampai tujuh hari. “Kalau warnanya lebih sedikit ya bisa lebih cepat. Sebab untuk satu warna harus menunggu kering dulu baru bisa diberi warna yang lain. Kalau ditumpuk warnya bisa pecah,” katanya sedikit membuka rahasia dapurnya. Ia berharap bisa tetap konsisten dan bisa membuat karya-karya lebih berkualitas. “Saya ingin go internasional,” harapnya.

Cuaca di Surabaya yang panas membuat cat yang diloleskannya cepat mengering. Mury pun kembali melanjutkan lukisannya. Ia kembali mengintip lewat alat pembesar yang dirancangnya sendiri. “Alat ini lensanya itu saya ambil dari fotograf. Saya beli di Pasar Loak. Seingat saya dulu harganya tujuh puluh lima ribu,” katanya sambil tangannya terus melukis. Mury berkarya dengan hati. Ia menancapkan eksistensinya dengan kesederhanaan dan tetap tidak sederhana.

Dalam pameran ini, setiap pelukis memang tidak diharuskan menampilkan satu tema khusus. Para pelukis diberi kebebasan. “Bahkan, Mbah Gimbal (salah satu peserta The Master) menyempatkan diri ke sini sebentar. Ia lakukan itu karena sudah komitmen terhadap komunitas. Ia langsung melukis abstrak. Pagi datang, sorenya ia langsung kembali ke jakarta untuk shooting di RCTI,” kata ketua panitia pameran, Muit Arsa.

Muit mengaku dalam pameran ini memang tidak  mendatangkan kurator dari luar. “Karena ini komunitas jadi masing-masing kami sudah mengerti satu sama lainnya. Ya tetap kita pilih. Kalau kurang cocok karyanya ya kita minta untuk menggantinya dengan lukisan yang lain,” papar pelukis yang memiliki ciri khas selalu memakai topi dengan kaca mata di atasnya. Muit berharap, pameran lukisan yang rutin digelar tiap tahun ini mampu menggairahkan perkembangan seni lukis di Surabaya maupun Indonesia. zaki zubaidi 

Tidak ada komentar: