Selasa, 13 November 2012

Rumitnya Perselingkuhan, Korupsi, dan Perceraian


Korupsi (atau sejenisnya) di negeri ini sekarang nyaris tak tebendung. Banyak koruptor yang tertangkap tapi kegiatan menguras kekayaan negara juga masih terjadi. Maling berdasi tidak ada kapok-kapoknya. Salah satu sebabnya adalah hukuman yang terlalu ringan. Saat keluar dari penjara, uang hasil korupsi itu belum habis. Mengapa manusia menjadi serakah? Para koruptor itu sudah kaya. Jelas lebih kaya dari pada maling ayam. Tapi mengapa mereka masih korupsi?

Naskah monolog “Kasir Kita” karya Arifin C Noer cukup nakal untuk menyingkap kemungkinan-kemungkinan penyebab seseorang menjadi koruptor. Naskah ini beberapa hari lalu dimainkan Risky Andi Prananta dari Teater Gapus Surabaya di Fakultas Ilmu Budaya Unair dalam rangka peringatan Malam Chairil Anwar (MCA). Naskah realis yang penuh dengan permainan emosi dari seorang tokoh Misbah Jazuli yang sedang galau.

Setting tempat dibangung sangat sederhana dan realis. Sebuah ruang keluarga. Di sisi kiri panggung meja dan kursi, di sisi kanan terdapat meja kecil yang di atasnya ada telepon rumah. Di tengah ada sketsel dengan hiasan pigora bergambar istri dan anak-anaknya. Sedangkan tata cahaya hanya menggunakan lampu ruang. Terang. Musik juga sangat minim. Kostum aktor hanya mengenakan kemeja dan celana hitam. Penghayatan karakter benar-benar menjadi kekuatan terbesar dalam pertaruhan pementasan ini. Sebuah tugas yang tak ringan bagi aktor.

Pementasan ini berkisah tentang sang kasir bernama Misbah Jazuli. Ia terbelit masalah karena menggunakan uang kantor untuk kepentingan pribadinya; memanjakan seorang perempuan yang merupakan selingkuhannya. Sementara keluarga Misbah Jazuli sendiri harus mengalami perceraian. Meski sudah cerai, Misbah Jazuli masih cinta istrinya. Ia menyesali perbuatannya hanya gara-gara tergoda perempuan lain. Misbah Jazuli bertambah galau karena perusahaan tempatnya bekerja akan melakukan audit keuangan. Permainan emosi itu menggunakan stimulus telepon berdering berkali-kali. Misbah Jazuli menerima telepon dari atasannya, perempuan simpanannya, serta mantan istrinya secara bergantian tanpa bisa ditebak dari siapa telepon itu berdering.

“Seperti saudara saksikan sendiri badan saya sedemikian lesunya, bukan? Tuhanku! Ya, hanya Tuhanku yang tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Saya rindu pada istri saya dan sedang ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor berhubung ada pertanggungjawaban keuangan,” Misbah Jazuli berhenti karena telepon berdering.

Misbah Jazuli mengira mantan istrinya yang menelepon tapi ternya perempuan nakal. Emosinya kembali meninggi. “Betapa saya marah. Sesudah beberapa puluh juta uang kantor saya pakai berfoya-foya. Apakah ia mengharap saya mengangkat lemari besi itu ke rumahnya. Gila!” Misbah Jazuli menirukan mengangkat brankas penyimpan uang. Dari posisi tengah panggung, aktor kembali duduk. Nafasnya masih naik turun karena emosinya masih tinggi.

“Saya telah berhubungan dengan perempuan, beberapa hari setelah saya bertengkar di pengadilan agama itu. Saya tertipu. Uang saya ludes, uang kantor ludes. Tapi saya masih bersyukur lumpur itu baru mengenai betis saya. Setangah bulan lalu saya terjaga dari mimpi edan itu. Betapa saya terkejut saat meghitung berapa uang kantor katut. Sejak saat itu saya ingat istri saya. Saya mendengar tangis anak-anak saya,” kalimat ini tersampaikan dan terasa permainan emosi dari marah hingga penyesalan. 

Namun penyesalan itu hanya kesia-sian. “Ya manis. Kau ingat laut, pantai, pasir, tikar, kulit kacang..ah...indah sekalu bukan? Tentu..tentu..ha? Bagaimana? Kawin? Kamu? Segera? Ya, tentu bisa,” ia meletakkan gagang telepon. Adegan ini tidak panjang namun pergeseran emosinya juga terasa. Berawal dari rayuan dan berakhir pada keterkejutan yang pahit. “Apakah ini bukan suatu penghinaan? Dia mengharap agar nanti sore saya datang ke rumahnya untuk melihat apakah laki-laki calon suaminya itu cocok atau tidah baginya. Gila!”

Antonin Artaud dalam sebuah tulisannya “Un athletisme affektif” menyatakan seorang aktor seperti seorang atlet fisikal dengan akibat wajar yang mengherankan. Organismenya yang afektif itu sama dengan organisme afektif pada seorang atlet. Kesamaan yang sangat pararel. Persoalan pernafasan adalah sesuatu yang sangat penting; secara proporsional terjadi sebaliknya pada ekspresi-ekspresi yang bersifat eksternal. Makin mengarah ke dalam dan makin tenang atau terkendali ekspresi tersebut, maka akan makin luas dan makin berapi-api akting yang diarahkan ke luar (externalized acting).

Menurut sutradara Dheny Jatmiko, dalam permainannya Risky sebagai aktor sangat total. “Dia haya butuh waktu dua hari untuk lepas naskah dan bermain apik. Permaina emosinya sudah bagus. Meski demikian memang masih butuh beberapa perbaikan,” kata Dheny Jatmiko. Dia mengungkapkan, pementasan di MCA itu ibarat sebuah pembuktian. “Pementasan ini disiapkan juga untuk seleksi Pekan Seni Mahasiswa, tapi gagal gara-gara rekorat telat mendaftar,” lanjutnya. Kata Dheny, Risky sangat kecewa dengan keteledoran itu. Padahal semua sudah dipersiapkan secara matang untuk meraih juara. zaki zubaidi

Tidak ada komentar: