Tampilkan postingan dengan label seni rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni rupa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Potensi Yang (Masih) Disia-siakan Pelukis


Lima dari 10 kolektor besar lukisan di Indonesia berasal dari Surabaya. Para kolektor yang berani merogoh kocek tanpa batas nominal untuk sebuah karya lukis itu adalah Erkin Limantara, Wijono Tanoko, Sunarjo Sampurna, Alex Tedja, dan Radjimin. Para investor seni tentu memilik potensi besar membangun pasar seni lukis yang besar di Surabaya.

Namun sayang mereka selama ini lebih banyak melakukan investasi seninya di luar Surabaya. Lebih naif  lagi karya yang mereka buru bukan milik pelukis dari Surabaya. Bukan karena mereka tidak mau membelanjakan uangnya untuk karya-karya pelukis Surabaya, tapi memang masih sedikit karya yang pantas dijadikan sebuah investasi. Imbasnya, beberapa galeri pun mati suri meski beberapa lain masih tetap terjaga eksistensinya.

“Sebuah galeri kalau tidak disiapkan dengan matang pasti tidak bisa bertahan lama. Padahal sesungguhnya lukisan sebagai sebuah bisnis juga sangat menguntungkan. Tapi memang i ini membutuhkan nafas panjang. Tidak bisa seperti orang jualan, asal barang laku langsung mereguk untung,” terang CEO AJBS Gallery Soebagio Widjaja ketika ditemui Seputar Indonesia, Jumat (16/3).

Menurut Soebagio, ada dua hal penting untuk mengelola sebuah galeri yaitu program dan imej. Dalam setahun galeri harus memiliki program pameran yang jelas dan diperhitungkan secara matang. “Misalnya dalam setahun AJBS Gallery menggelar tujuh kali pameran, itu tidak setiap pameran mengeruk untung. Padahal sekali pameran membutuhkan dana sekitar Rp50 juta. Dana tersebut tertutup saja sudah untung. Jangankan subsidi silang, yang sering itu kita rugi,” papar Soebagio yang mengelola AJBS Galllery tiga tahun terakhir ini.

Kondisi seperti memang harus dilalui sebuah galeri di awal pertumbuhannya. Jalan panjang harus dilalui agar imej galeri tersebut terangkat sejalan dengan seringnya pameran yang digelar. Tentu saja sebuah pameran yang berkualitas. “Ekonomi dunia sekarang memang sedang buruk. Tapi kita harus start sekarang. Jika ditunda akan semakin tertinggal,” tuturnya. Kondisi pasar seni lukis sempat sangat sehat antara tahun 2006-2008. Pada era tersebut karya apa saja laku dijual.

“Untuk sementara memang jangan memburu profit marjin dulu. Nanti empat hingga lima tahun baru akan merasakan manisnya,” kata pria yang juga kolektor lukisan ini. Setelah proses panjang bertahan dan membangun imej tersebut tercapai barulah sebuah galeri menargetkan keuntungan. Tentu saja ini juga mimpi panjang yang ingin diwujudkan AJBS Gallery maupun galeri-galeri lain di Surabaya. Tentu  saja sambi berharap pelukis-pelukis Surabaya mengalami pergerakan kualitas menghasilkan karya yang memiliki nilai investasi, bukan sekadar dekorasi.

Untuk itulah, kata Soebagio, dirinya mendatangkan pelukis dari luar Surabaya yang berualitas internasional. “Biar pelukis di sini terbuka wacana, jangan hanya jago kandang. Pelukis lain sudah pameran hingga luar negeri kok masih bangga pameran di kotanya sendiri,” tegas Seobagio. Sebab jam terbang pameran di galeri-galeri besar juga memiliki dampak terhadap harga sebuah karya lukis tersebut. Meskipun antara harga jual dan kualitas karya bukan hal selalu berjalan seiring. Karya yang bagus belum tentu nilai jualnya tinggi, begitu juga sebaliknya karya yang mahal itu belum tentu karya yang bagus. “Harga dan kualitas lukisan adalah dua hal yang berbeda,” lanjutnya.
Yang terpenting, kata Soebagio, untuk pelukis Surabaya adalah berkarya dengan baik dan selalui memegang komitmen yang sportif. “Jika sudah menjalin kerja sama dengan sebuah galeri ya harus berkomitmen. Jangan seenaknya sendiri,” ungkapnya. Karya juga harus ditingkatkan dengan membuka wacana seluas-lusanya. “Kosongkan gelas. Jangan tinggi hati dan harus selalu siap menerima kritik,” harap Soebagio.

Pengamat seni lukis Imam Muhtarom mengakui kondisi Surabaya selama setahun terakhir sudah cukup baik. “Secara umum, adanya acara-acara yang terbilang sering itu menunjukkan kegairahan dalam berseni rupa,” kata pria yang kini menetap di Jakarta ini. Namun sayang intensitas acara itu hanya semacam membangkitkan gairah saja. Kualitas karya belum ikut terbangkitkan.

Menurut Imam, belum terkatrolnya kualitas tersebut bisa dilihat dari acara Bienalle Jatim tahun 2011 kemarin. “Perkembangan konsep yang  dijabarkan sang kurator ternyata tidak serta merta menandakan gerak kualtas di wilayah penciptaaan,” terangnya. Kata Imam, diperlukan kemampuan teknis yang diiringi merumuskan gagasan. Banyak ide yang hendak  disampaikan lewat karya, namun tidak mendapat bentuk yang memadai. Demikian juga sebaliknya. Ada teknis yang menarik, tetapi tidak mendapat abstraksi gagasan yagn kuat.

“Kalau dua hal ini dipersoalakan,  barangkali kerangka masalahnya menjadi luas. Kenapa ide dan teknis ini tidak mendapat akarnya dalam seni rupa di Surabaya dan Jatim pada umumnya? Aku pikir perlunya pendisiplinan dalam hal berkesenian  itu sendiri. Artinya, perupa perlu eksplorasi gagasan-gagasannya dengan sekuat mungkin mengikuti perkembangan lingkungan sosialnya, perkembngan sejarah seni rupa, dan perlunya ada gesekan-gesekan. Atau melakukan perbandingan-perbandingan dalam peta seni rupa di kota-kota Indonesia sendiri,” papar anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) ini.
Memang, lanjut Imam, cara menjawab secara singkat dari persoalan di atas tersebut adalah adanya pendidikan seni yang memadai. Namun sembari menunggu adanya pendidikan formal itu, terpenting adalah mempersiapkan aspek-aspek pendukungnya. Surabaya sudah memiliki beberapa galeri yang memadai. Adanya event berkala yang menjanjikan. Adanya kolektor yang bisa diajak peduli. Informasi begitu mudah diunduh. Artinya tinggal menunggu, terutama seniman muda, untuk menjadi bagian yang menentukan seni rupa di Jawa Timur dan Surabaya pada khususnya.

Proses membangun kualitas ini juga tidak bisa lepas dari campur tangan kurator. “Posisi kurator penting, tetapi susahnya kalau yang dikuratori karyanya belum maksimal. Aku kira sebuah perhelatan seni rupa tidak jalan. karyanya bagus kemudian kuratornya menyajikan kepada audiens secara tepat, itu baru pehelatan seni rupa yang bagus. Tidak timpang,” kata Imam.

Lalu bagaimana pengaruh broker lukisan yang bisa merusak nilai sebuah karya? Bagi Imam, bukan masalah broker atau tidak. “Pertanyaan yang harus dijawab; apakah pameran tersebut berkontribusi bagi perkembangan seni rupa, atau bagi masyarakat sendiri. Misal, perupa kita Soedjojono dalam sejarah seni rupa memberi arti besar bagi pekembangan. Atau dalam wilayah terbatas, tokoh-tokoh setempat,” urainya.

Kalau ingin konservatif, lanjut Imam,  pasar punya medan sosialnya sendiri, sementara medan wacana seni rupa punya medan sosialnya sendiri. Kalau pun dua hal ini bisa saling mendukung akan menarik.  Tapi selama ini tidak atau belum berjalan. “Sebab itu harga dan kualitas karya itu menjadi dua hal yang berbeda,” tegas Imam.

“Dalam soal harga, rumit mengetahuinya secara pasti, apalagi saat terjadi booming seni rupa. Itu biar pasar yang bekerja. Selagi seniman punya prinsip dalam berkaryanya dan mengasah terus-menerus kemampuannya, pasar pasti akan menyerapnya. Tapi jangan beradaptasi dengan selera pasar, itu soal krusialnya bagi para seniman,” harap pria yang juga prosais ini.zaki zubaidi


Antara Symbolic Value dan Economic Value

Nilai ekonomi (economic value) suatu karya seni (baca: lukisan) tidak bisa muncul secara tiba-tiba tanpa jelas asal-usulnya. Yang membentuk nilai ekonomi karya seni tersebut adalah nilai kultural (symbolic value) yang ada di balik karya tersebut. Sehingga pada mulanya  adalah symbolic value (dan ini yang lebih penting dan mendasar) yang kemudian membentuk economic value   -dan selanjutnya berlaku pada hukum besi ekonomi (demand and suplly).

Hal ini dijelaskan oleh Eddy Soetriyono dalam sebuah pengantar kuratorial pameran lukisan “Star Wars” beberapa waktu lalu. Dalam hubungan symbolic dan economic value ini ada semacam dalil yang menyebutkan bahwa di pasar yang established, economic value akan sangat bergantung pada symbolic value, bahwa dalam jangka panjang symbolic value akan menentukan economic value dan bahwa yang namanya economic value itu tidak akan pernah bisa mengubah the real  symbolic value.

Lalu apa acuan kita menilai seberapa jauh symbolic value seorang seniman (baca: pelukis)? Yakni seberapa jauh  seniman itu penting dan mapan dalam perjalanan senin rupa, serta seberapa jauh dia menyumbang suatu yang berguna bagi art world-nya. Dalam peta seni lukis abstarksi di Indonesia, misalnya, Achmad Sadali dari ITB dan Fajar Sidik dari ASRI Yogjakarta jelas merupakan dua tokoh puncaknya. Sehingga jelas symbolic value-nya jelas lebih tinggi dari pada pelukis-pelukis absraksi yang lain.

Namun tidak jarang symbolic value ini dirusak para bakul lukisan. Bakul yang berkedok kolektor ataupun pengamat dadakan yang tidak jelas dasar ilmunya. Mereka ini hanya bisa memanas-manasi  calon kolektor dengan jurus yang sangat menyesatkan; “investasi  di seni rupa itu bagus sekali, dalam tempo sekajap bisa untung ratusan kali lipat”. Padahal kepentingan mereka hanyalah untuk menciptakan boom yang akan menggelembungkan bubble, lahan spekulasi yang subur bagi bakul itu.

Sebab itu masyarakat jangan terburu terkejut ketika harga sebuah karya tiba-tiba melambung tinggi.  Apalagi jika harga itu didapat dari sebuah lelang. Harga tersebut adalah harga semu. Jadi untuk bisa mendapatkan the real price­-nya perlu mengamatinya dalam jangka panjang. Sebab sangat besar kemungkinan harga yang secara tiba-tiba itu hanyalah ulah dari para bakul.

“Istilahnya sebuah karya itu digoreng. Sehingga karya dari seorang pelukis itu menjadi mahal. Padahal ia belum mencapai suatu titik symbolic value yang membuat economic valuenya setinggi itu,” ungkap Seobagio Widjaja. Dijelaskan, karya itu “digoreng” agar nilai jual pelukisnya juga naik. Nah, bakul ini pasti sudah mengoleksi karya-karya dari pelukis yang “diorbitkan” tadi. Dengan begitu koleksi para bakul inipun akan secara tiba-tiba menjadi barang yang mahal. “Namun yang demikian ini pasti tidak bertahan lama. Seiring berjalan waktu harga karya tersebut akan turu lagi,” katanya.zaki zubaidi

Pastiche Reinterpretasi Dunia Yang Dilipat


 Ingatan saya langsung tertuju pada sebuah buku berjudul “Sebuah Dunia Yang Dilipat”. Buku karya Yasraf  Amir Piliang ini belum tuntas saya baca, namun tiba-tiba menjejal dibenak saat menikmati lukisan-lukisan yang disajikan dalam pameran bertajuk  “Treasure On Mirror” di AJBS Gallery Jalan Ratna, Kamis (2/3) lalu.

Karya-karya yang disajikan sang kreator, Dadi Setiyadi membuat dunia dalam setting waktu maupun tempat menjadi begitu kecil. Empat belas lukisan tersebut diakui sebagai re-kreasi oleh kuratornya, Eddy Soetriyono. Sebuah upaya penciptaan ulang dari karya (baca: lukisan) lama yang sebelumnya sudah ada. Sementara karya lama tersebut terinspirasi dari cerita legenda maupum mitos.

Namun kiranya yang tertangkap tidak sesederhana itu. Sebab ada semacam proses interpretasi pelukis terhadap karya yang sudah ada sebelumnya. Hingga –mungkin- tidak berlebihan jika disebut sebagai reinterpretasi. Dadi memberi pemaknaan baru terhadap karya-karya yang sudah ada itu dalam konteks kekinian. Ia dengan jujur menunjukkan juga source yang dipinjamnya sebagai bahan karyanya.

Adalah pastiche yang lebih cocok dari pada disebut parodi. Parodi merupakan sebuah komposisi seni ataupun sastra yang di dalamnya gagasan, gaya atau ungkapan khas seorang seniman dipermainkan sedemikan rupa sehingga membuatnya tampak absurd. Benar memang Dadi Setiyadi terkesan ingin bermain-main, menyindir, atau sinis. Namun tidak muncul absurditas sebab lukisannya sangat terjelaskan.

Mungkin agak lebih dekat pada pastiche. Sebuah karya seni maupun sastra yang disusun dari elemen-elemen yang dipinjam  dari satu atau berbagai sumber (seniman, gaya, idiom, kebudayaan) di masa lalu. Ini lebih terasa akrab pada karya Dadi Setiyadi meski ada juga beberapa sumber diambil tidak dari masa lalu. Patutlah ia dianggap mampu  membuat masa lalu menjadi berbekas.  Tidak sekadar seperti yang dinyatakan Walter Benyamin, masa lalu hanya dapat ditangkap sebagai citraan yang bersinar seketika dan kemudian lenyap tak berbekas.

Paling dekat dengan pintu masuk galeri adalah lukisan berjudul “Nyi Pohaci Sanghyang Sri”. Lukisan ini sangat lega dinikmati. Tertuang dalam kanvas berukuran 200x300 Cm dengan bahan acrylic. Di samping lukisan itu –juga yang lain- disajikan keterangan yang sangat lengkap. Apa saja sumbernya hingga keterangan interpretasi –entah kreator atau kurator-  yang ingin disampaikan pada penikmat seni. Lukisan tersebut dibuat dari bahan lukisan karya Sandro Boticelli yang berjudul “The Birth  of Venus”, lukisan Franz Wilhelm Junghuhn berjudul “Plateau Dieng”. Sumber lain –bukan lukisan- adalah tokoh Batman, buah-buahan dan sayuran, mawar, pohon aren, serta pohon bambu.

Keterangan lukisannya juga sangat memanjakan pengunjung. Dijelaskan bahwa Nyi Pohaci atau Dewi Sri, dalam mitologi di pulau Jawa dan Bali, adalah dewi “langit” yang cantik parasnya, sintal, berisi tubuhnya serta panjang terurai rambutnya. Dewi khayangan yang cantik ini mengganggu kestabilan langit hingga terpaksa dibunuh dan mayatnya dikubur di jagat “duniawi”. Karena sang dewi luhur budinya maka dia dengan tulus mempersembahkan keelokan tubuhnya demi kesuburan bumi. Sehingga dari segenap bagian tubunya menjelma segala macam tumbuhan yang berguna bagi manusia.

Masih yang tertulis dalam keterangan lukisan itu; begitu mengingat mitos Dewi Sri maka membayang kuat di benak perupa Dadi Setiyadi sosok Dewi Venus yang dilukiskan  dalam karya pelukis top Renaisans Italia, Sandro Boticelli (1445-1510) berjudul Kelahiran Venus (1486) yang hingga kini masih tersimpan prima di Galeri Uffizi, Florence. Apalagi menurut ahli seni rupa Renaisans termashur, Ernst Gombrich, Venus merupakan dewi “duniawi” yang dilindungi hal-hal yang fisik-material tapi sekaligus diliputi cahaya “surgawi”. Menggairahkan dan penuh kejelitaan sekaligus melambangkan “kesuburan penciptaan”.

Menggunakan bahan lukisan itu untuk mere-kreasi mitos Dewi Sari, maka Dadi Setiyadi pun mengganti latar bahari dari lukisan Botocelli dengan latar agraris. Cangkang kerang menjadi wadah penuh persembahan berjenis sayur-mayur dan buah-buhan. Tanaman pun berganti beragam pohon tropis, termasuk pohon aren bersadap nira manis yang konon menjelma dari lubang vagina sang dewi. Deburan laut berombak digantikan hamparan sawah menguning panen. Sedangkan langit luas bersaput mega sirna dan menjelma gulungan pegunungan yang diambil dari lukisan “mooie indie” karya seorang naturalis penemu kina sebagai obat malaria yang sekaligus seorang botanikus dan vulkanolog, FW Junghuhn (1809-1864) tentang pemandangan di “Plateau Dieng” yang sangat kuat bau pulau Jawa-nya. Lengkap dengan mawar tersebar. Bahkan agar lebih kuat bau lokal Nyi Pohaci Shanghyang Sri sebagai dewi kesuburan di pulai Jawa sang seniman melabeli lukisannya dengan pita bertajuk “Gemah Ripah Loh Jinawi”, metafor bahasa di Jawa untuk menggambarkan negeri yang tenteram dan makmur serta subur tanahnya.

Tapi untuk mengungkapkan bahwa mitos itu tak pernah lekang dimakan zaman karena maknanya yang berlapis sehingga tidak habis ditafsir ulang, Dadi Setoyadi juga melakukan penciptaan ulang karya Boticelli agar menebarkan aroma masa kini dengan menggambarkan adegan sang dewi bersayap bidadari ketika dibawa ke bumi oleh tokoh super hero manusia kelelawar Batman, tokoh dalam mitologi kontemporer.

Keterangan yang cukup panjang dan memanjakan siapa saja (seorang bodohpun) untuk bisa menikmati lukisan tersebut. Namun keterangan yang begitu panjang dan detil pada setiap karya bisa sekaligus menjadi penjara interpretasi pengunjung pameran. Ada pemaksaan yang dijejalkan. Namun menikmati pameran tersebut cukup menjadi sebuah refresing sekaligus menambah wawasan tentang lukisan, mitos, hingga isu terkini yang menjadi sumber kenakalan Dadi Setiyadi.

Dan seperti dikatakan kurator Eddy Soetriyono, Dadi Setiyadi mampu melakukan kreativitas untuk melakukan change of meaning ataupun transfer of meaning, sehingga semua itu menciptakan metafor baru. Referensi yang ada digodok sedemikian rupa sehingga menjadi metafor baru yang membuka horison kepada dunia yang baru terbangun itu. Sebuah dunia baru yang mengundang dengan akrab agar kita meninjau dan bertamsya di dalamnya.zaki zubaidi

Karya Jujur Meski Minim Simbol


Memamerkan sebuah karya (baca:seni rupa) membutuhkan keberanian. Ketika karya tersebut dipajang untuk memberi ruang interaksi dengan masyarakat, maka segala bentuk apresiasi akan muncul. Entah itu cemooh atau puji, kreator harus bisa berbesar hati.

Keduanya bisa menjadi cambuk untuk meningkatkan kualitas atau juga sekaligus membuat semakin terpuruk. Tapi jika karya yang jujur dari sebuah proses belajar itu yang dipamerkan, maka apapun hasilnya patut dan wajib dianggap positif. Karya-karya yang masih harus banyak dikritik itu ditampilkan dalam pameran seni rupa "Ekspresi Rupa Buana" yang digelar di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya Jalan Pemuda pada 1 hingga 5 Februari 2012.

Mengutip Susanne K.Langer,  karya seni meskipun dalam arti tertentu mempunyai kemiripan dengan alam, namun ia sudah tercabut dari kenyataan alamiah. Pada seni terdapat prinsip kelainan dari alam, yang membuat seni itu sungguh-sungguh berdiri sendiri sebagai ciptaan. Prinsip ketercabutan dari kenyataan alamiah menjadi prinsip penciptaan seni.

Bertolak dari asumsi bahwa karya seni adalah hasil simbolisasi manusia, maka prinsip penciptaan seni mengambil pola dari prinsip simbolisasi atau pembentukan simbol. Intuisi atau inspirasi memegang peranan yang penting di dalam aktivitas mencipta. Dari pengalaman estetik, manusia memperoleh kesan dalam kehidupannya. Dan manusia cenderung ingin mengabadikan kesan yang dimilikinya.

Memang banyak karya yang dinikmati tak lebih dari sebuah hiasan. Tapi masih ada juga beberapa karya menarik, misalnya lukisan berjudul "Wayang Beber" karya Kusnuddin Jurri mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Adi Buana. Lukisan ini menampilkan sosok tokoh pewayangan. Namun tak jelas siapa tokoh yang dimaksud. "Saya tak tahu siapa tokoh wayang itu karena saya juga tidak merujuk pada yang ada. Yang jelas salah satu ciri wayang beber adalah kedua matanya ditonjolkan. Tidak seperti wayang kulit yang hanya satu mata," katanya.

Tentu saja ini ungkapan jujur dan penuh keberanian. Tanpa peduli pada rahim penciptaan tokoh tersebut karya itu menyampaikan sebuah keberanian. Wayang itu menggunakan pakaian khas Jawa dengan pose seperti hendak menerjang bahaya. Matanya yang menonjol terkesan melotot; sebuah amarah. Lukisan ini tidak menggunakan pewarna yang lazim digunakan pelukis. Kusnuddin menggunakan pewarna batik dalam karyanya itu.

Ada juga karya yang mencoba bermain di wilayah ambigu. Lukisan berjudul "Jebakan Hidup" karya Danang Dwi Kusuma yang menawarkannya. Lukisan perempuan telanjang dengan posisi telungkup memeluk lutut. Tubuh itu separoh tertutup kain putih dengan lilitan tali warna merah. Ia berada di sebuah ruang yang juga temboknya berwarna merah. Di bagian atas ata jendela dari jeruji besi yang membiaskan sinar dari luar. Mungkin di dalam sebuah ruang tahanan. Tali yang melilit tubuh perempuan terikat pada jeruji besi jendela.

Jebakan hidup bisa dimaknai jebakan yang hidup, tapi juga bisa dianggap jebakan dalam sebuah kehidupan. Perempuan itu adalah objek yang terjebak dalam ruang, namun juga memungkinkan sebagai umpan yang bisa menjebak siapa saja. Sejarah perempuan dalam sebuah kekuasaan sangat signifikan. Betapa perempuan bisa membuat Napoleon Bonaparte tersungkur dari kursi kejayaannya. Perempuan mahluk yang lemah yang juga sekaligus bisa sangat berkuasa. Merah warna cinta, merah juga bisa amarah.

Ada juga lukisan yang didominasi warna putih berjudul "Kesepian" karya Anggi. Menggunakan media lilin, lukisan ini menggembarkan sosok terpekur dengan memeluk lutut dalam posisi duduk. Goresannya hanya semacam sketsa hitam yang kabur. Sosok itu membelakang lilin padam yang di atasnya ada sebuah topeng warna biru.

Dominasi dasar putih dengan sketsa hitam cukup menarik dan menjadi agak nakal untuk menggambarkan kesepian. Kesepian biasanya disampaikan dalam warna-warna gelap. Namun penggunaan lilin sebagai bahan sekaligus salah satu objek membuat karya ini begitu tragis. Lilin yang menyala bisa menjadi penerang. Ia membakar dirinya sendiri hingga tandas. Kesepian yang begitu mengerikan meskipun tanpa dominasi warna hitam.

Namun sayang, pilihan warna biru pada topeng membuat karya ini agak sedikit terganggu. Topeng ini hanya terkesan seperti stempel tinta. Menjadi tidak menyatu dengan dua objek lainnya. Mungkin lebih bermakna jika menggunakan warna hitam atau bahkan juga putih. Serupa bayang-bayang Tuhan pada kelam. Tapi mungkin saja kreator memiliki maksud lain yang tidak mudah terpahami.

Selain lukisan ada juga karya patung tanpa judul. Empat patung ini merupakan bentuk kepala masing-masing kreatornya. Meraka adalah  Putri Nila Kusuma, Kusnuddin Jurri, Agustina Wulandari, dan Ratu Eka. Patung dibuat dari bahan semen yang dicor. Keempatnya menyampaikan ekspresi yang berbeda. Tapi totalitas warna hitam akhirnya menjebak seluruh ekspresi tersebut pada kemurungan.

Kalaupun tersenyum, senyum itu seperti hanya menyembunyikan luka. Ada juga yang tertawa, tapi tawa itu juga menyampaikan kegetiran. Ada yang tenang tapi malah seperti memendam dendam. Ada juga yang berteriak, tapi yang "terdengar" jerit kesakitan.  Memang begitulah risiko sebuah pilihan.

Kata Hariadie, karya yang dipamerkan merupakan hasil studi selama kuliah di Jurusan Seni Rupa Fakultas Keguruan Ilmu PendidiAn Universitas Adi Buana Surabaya. Seba itulah karya-karya tersebut sifatnya masih belajar dan banyak kekurangan.

"Ibarat menabur benih kesenian ketika bersemi tinggal merabuknya. Seperti yang kami singgung, tatkala ingin merawatnya maka tumbuhlah pohon yang subur," kata Hariadie yang merupakan dosen pengampu mata kuliah tersebut.

Sementara itu Kusnuddin Jurri mengakui pameran ini merupakan proses studi tahap akhir, yaitu proses studi yang menuntut pembuktian aktualisasi diri pada masyarakat. "Inilah yang sedang kami lakukan. Sebuah tuntutan akademis yang mengharuskan mahasiswa seni rupa semester akhir mengapresiasikan karya yang dibuat selama proses studi," kata Kusnuddin yang juga ketua panitia pameran.

Ditambahkan, sebenarnya mata kuliahnya bukan "pameran studi", tapi lebih pada cara memanajemeni sebuah pameran. Tentu saja pamer karya menjadi tantang tersendiri. Bagi Kusnuddin, subtansi dari apresiasi itu adalah penilaian terhadap suatu karya yang tentu saja syarat dengan berbagai kekurangan dan kelebihan.  "Tentu berbagai kritik dan saran akan sangat bermakna bagi sukses atau tidaknya sebuah perhelatan kesenian yang bersifat apresiatif ini," katanya. zaki zubaidi

Ketika Lukisan Tak Sekadar Hiasan


 Lukisan dengan berbagai jenis dan alirannya menjadi salah satu pilihan hiasan dinding rumah. Lambang gengsi. Kemungkinan itu yang paling bisa dicurigai. Tidak bermaksud pesimistis dengan selera seni masyarakat Surabaya namun ya begitulah. Begitu juga yang terasa saat menyaksikan pameran lukisan Dec-Art Di Hati yang digelar di Galery Balai Pemuda, sejak tanggal 20-31 Desember 2011.

Pengunjung disuguhi sekitar 45 karya dengan tema yang tidak seragam dari para pelukis yang tergabung dalam Lentero  Art. Meski demikian tetap ada beberapa karya yang bisa dinikmati lebih dari sebuah hiasan dinding. Lukisan berjudul “Penantian” karya Basuki Bawono masih memberi peluang penikmat untuk meliarkan imajinasinya. Tak sekadar melihat sebuah tiruan; imitasi dari kenyataan.

Seorang perempuan menggunakan gaun putih duduk dengan tatapan mata kosong. Matanya memang agak sayu. Tapi di depannya hanya warna putih. Polos tak ada jendela atau objek lainnya. Ruang kosong yang coba dihadirkan untuk memberi kesempatan imajinasi membentuk objek sesuka hati. Jelas suasana hati penikmati sangat menentukannya. Sepertinya begitu, namun tirai merah di belakang perempuan itu mencegah keliaran. Terasa ngelangut dengan emosi yang tertahan.

Lukisan lain dengan objek perempuan adalah “Penari Bali”. Lukisan karya Suratno ini menampilkan penari sedang bergerak rancak.  Matanya terbelalak (seperti biasanya penari Kecak) memesona. Saputannya cukup mampu membuat lukisan tersebut terasa terus bergerak. Benar-benar seperti sebuah penari yang menampilkan keriangan. Dengan kombinasi warna-warna cerah yang merdeka. Cukup kontras dengan suasana yang ditawarkan lukisan “Penantian”.

Ada juga lukisan nakal berjudul “Oh Yes” karya Sugeng Wahyono. Lukisan berukuran 50x60 centimeter ini menampilkan gambar lelaki dan perempuan sedang bercumbu. Sang laki-laki mengenakan celana panjang dan singlet, sedangkan perempuan mengenakan celana panjang dan bra. Namun bentuk fisiknya yang gemuk glinuk-glinuk menjadikan gambar realis itu sedikit absurd. Bisa sebagai orang dewasa tapi juga sebagai anak baru gede.

Diantaranya juga ada karya yang mengusung tema kritik sosial. Salah satunya lukisan berjudul “Panen+MPR” karya Yudhadi. Karya tersebut menampilkan visual para petani sedang pesta panen padi. Namun mereka tidak berada di sawah atau sebauh pedesaan. Di belakang mereka tampak gedung DPR RI serta Tugu Monas. Sedangkan tempat mereka berpijak adalah awan putih. Peristiwa di atas tanah itu diusung di negeri di atas awan. Semacam parodi dari kenyataan negeri ini.

Keanekaragaman karya yang dipaperkan cukup memberi pilihan bagi para kolektor atau sekadar pencari hiasan dinding rumah. Terlepas dari suatu karya itu memiliki nilai yang layak diapresiasi atau tidak, pameran lukisan di sebuah kota kerja seperti Surabaya sudah patut disyukuri. Meskipun gejala komersialisasi seni itu begitu terasa.

Imam Muhtarom, pemerhati seni rupa, mengakui memang ada gejala komersialisasi seni tersebut.  “Semangat untuk mengembalikan pada kemurnian seni di tengah berbagai gempuran tersebut yang menjadi persoalan tersendiri,” kata Imam yang kini berdomisi di Jakarta. Namun karya bisa “berkembang” keindahannya seiring waktu yang bergulir mengubah sebuah masyarakat.

“Kita juga tidak bisa menduga bila di kemudian hari karya yang tidak sedap dipandang mata justru dicari kolektor. Sebab kapital selalu bisa memperlakukan apa saja, terutama seni rupa, menjadi barang komodifikasi sejauh barang itu dianggap berharga. Atau, sesuatu yang mulanya dianggap remeh temeh menjadi berharga ketika kapital mengakomodasinya menjadi sederet komoditas,” ungkap pria yang juga kurator lukisan ini.

Bagi Ribut Wijoto, kondisi seni rupa di Surabaya beberapa tahun terakhir sudah mengalami perubahan yang positif. “Lumayan, sekarang sudah banyak galeri-galeri yang intens menggelar pameran dengan standar kuratorial yang berkualitas,” kata pria yang juga seorang kritikus seni ini.

Bisa dikata, perupa tidak punya kesulitan mencari tempat unjuk kreativitas atau unjuk karya. Kolektor juga memiliki banyak pilihan ruang pameran. Di Surabaya, hampir tiap bulan ada pameran seni rupa. Bahkan, pada bulan yang sama, pameran bisa digelar pada tiga sampai empat tempat.

Apakah riuhnya pameran berbanding lurus dengan kualitas karya? Bagi Ribut hal itu belum bisa jadi ukuran. Kata Ribut, sampai sekarang, lukisan hasil pameran di Surabaya yang laku terjual di atas angka Rp100 juta, sungguh sangat langka. Paling banter sekitar Rp10 juta sampai Rp20 juta. Harga memang bukan ukuran utama karya. Justru sebaliknya, harga jual kerap kali menyesatkan atau membiaskan potensi estetik lukisan.

“Tetapi, begitulah kondisi seni rupa di Surabaya. Perihal harga tidak mampu bersaing dengan seni rupa Yogyakarta dan Bandung,” tuturnya. Di luar masalah harga, karya seni rupa fenomenal memang nyaris tidak pernah muncul di Surabaya. Periksa saja laporan pameran atau peristiwa seni rupa di media-media nasional. Isinya hampir selalu disesaki oleh pameran di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan kadang-kadang Bali.

Padahal sebagai sebuah kota besar dengan penduduk yang sangat besar pula, media seharusnya memberi porsi pemberitaan yang besar terhadap peristiwa kesenian (baca: pameran) di Surabaya. Persoalannya, peristiwa keseniannya mungkin memang tidak layak diberitakan secara besar.

Berpuluh puluh, beratus ratus, bahkan ribuan pameran yang digelar di Surabaya tampaknya masih dipandang sebelah mata. Belum layak diperbincangkan secara nasional. Belum mampu memberi kontribusi terhadap ranah seni rupa Indonesia. Pameran hanya sebatas pameran. Mulai dari pameran seni rupa realis, surrealis, impresionis, naturalis, post-naturalist, hiperrealis, dadaisme, kubisme, dan lain-lain nasibnya sama saja. Tidak memunculkan karya dengan teknik tinggi maupun ide brilian.

Pada wilayah kritik atau wacana seni rupa, Surabaya juga masih lemah. Jarang sekali ada guliran wacana yang muncul dari Surabaya lantas merebak ke kota-kota lain di Indonesia. Yang lebih sering terjadi, Surabaya mengadopsi bahkan mengekor wacana-wacana yang sedang berkembang di Yogya maupun Bandung. Kritik seni rupa juga langka. zaki zubaidi