Tampilkan postingan dengan label antologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Membaca Antologi FPII 2012 dengan Tanda Tanya Bertubi-tubi


Buku tebal itu tergelak tepat disamping segelas kopi hitam. Hard cover berwarna hijau. Tulisan besar; What’s Poetry. Di bawahnya menjelaskan buku tebal itu adalah sebuah antologi puisi. Di bawahnya lagi tertulis; Forum Penyair Internasional Indonesia 2012. Jelas antologi itu bukan buku murah. Isinya apakah memang “semahal” kualitas fisiknya?

Jelas pembaca langsung ingin tahu siapa sajakah sastrawan Indonesia yang ada dalam FPII 2012 itu.  Puisi apa saja yang ada dalam antologi yang telah dilaunching secara maraton di Magelang, Pekalongan, Malang, dan Surabaya ini. Bukan karya yang pertama kali dibaca, tapi siapa saja penyairnya.

Biodata para penyair itu ada di halaman 437 hingga 495. Beberapa nama dalam biodatanya terjelaskan sebagai seorang yang memang telah menulis beberapa karya dan terpublikasikan  di media. Tapi ada juga yang membuat pembaca tercengang-heran, diantaranya biodata Mikael Johani, Ratri Ninditya, dan Stephani Mamonto.

Mikael Johani dalam biodatanya menerangkan tinggal di Ciledug, Tangerang. Senin-Jumat naik vespa lx150 ke kantor di daerah Senopati, Kebayoran Baru (rute pencuri kerbau di zaman pra-Indonesia). Sabtu-Mingggu disko di rumah. Menulis puisi dan resensi (selain nge-tweet) di tumblr, posterous, multiply, facebook notes, blogspot dan goodreads. Pernah menerbitkan stensilan puisi bahas Inggris di tahun 2008, berjudul We are Nowhere and It’s Wow. Dalam banyak hal masih, masih nowhere sampai sekarang. Lahir di Yogyakarta, 18 Juni 1976. Lulis S1 dari Australian National  University , Jurusan Sastra Yunani Kuno.

Ratri Ninditya menjelaskan dalam biodata jika dirinya ngekos pindah-pindah di berbagai tempat di Jakarta. Sebulan sekali pulang ke rumah orang tua di Gandul, Depok. Menulis copy untuk perusahaan iklan, doesn’t matter. Menulis puisi dan cerpen di tumblr dan blogspot (yang ini matters to me). S1 Universitas Indonesia, Jurusan Komunikasi. Suka baca, suka lars von trier, makan, dan ngelamun di kendaraan umum.

Sedangkan Stephanie Mamonto menulis biodatanya, lahir di Jakarta 7 Mei 1986 dan memilih tetap tinggal di rumah orang tunya di Rawa buaya sampain saat ini meskipun jauhnya bikin badan encok. Jam 7 pagi sudah menjelma menjadi mbak-mbak Sudirman, siangnya bisa ada di manamana mengejar bloger/penulis untuk sebuah perusahaan startup digital media di Indonesia, dan malamnya ada di Salemba untuk kuliah atau di kedai-kedai kopi tersembunyi yang kurang hipster untuk menyusun tesis atau menulis sebagai kontributor di majalah-majalah gaya hidup masa kini tentang pop culture. Hanya bahagia ketika mengaduk kesedihan di dalam mangkuk berisi sesendok kopi hitam, sedikit susu,  dan sejumput gula. Kuliah malam S-2 Komunikasi di Universitas Indonesia.

Dalam pemikiran Pierre Bourdieu dinyatakan suatu habitus itu setidaknya didukung empat modal, yaitu; modal ekonomi,  modal sosial, modal budaya, dan modal simbolis. Suatu proses kepenyairan (habitus) haruslah didukung keempat modal itu agar dalam bertarung atau memiliki eksitansi dalam arena (baca: sastra) agar bisa terbaca sebagai sebuah praktik (baca: puisi atau penyair). Sederhananya, Bourdieu  merumuskan (habitus x modal) + arena = praktik. Sehingga untuk melihat sebuah karya bisa dilakukan dengan merunut bagaimana kehidupan penulisnya, karya-karya apa saja yang dihasilkan sebelumnya.

Nah, berdasar biodata ketiga nama itu bisa terjelaskan bahwa proses kepenyairan mereka itu hanya didukung modal sosial dan modal ekonomi. Keterlibatan mereka dalam antologi FPII 2012 tidak disertai modal budaya apalagi modal simbolis.  Modal sosial, jelas mereka punya karena ranah pertaruhan mereka di internet. Jaringan yang sudah terbentuk diantara sesama blogger atau sejenisnya. Modal ekonomi, jelas, karena mereka memiliki laptop untuk memproduksi tulisan-tulisannya. Mereka tidak memiliki modal budaya yang cukup sebagai penulis yang karya-karya terpublikasikan melalui sebuah seleksi yang ketat. Kalaupun tidak terpublikasikan, karya mereka bisa dipertanggungjawabkan secara estetis.   

Lalu apa penjelasan kurator tentang tanda tanya ini. Afrizal Malna dalam esai kuratorialnya ternyata menerangkan bahwa puisi yang terkumpul bukanlah puisi kanon. “Kurasi ini merupakan laporan dari kecenderungan puisi kontemporer Indonesia. Kehadirannya masih membutuhkan pewacanaan lebih lanjut. Karena itu saya menyebutnya sebagai sebuah versi dalam puisi kontemporer Indonesia melalui kurasi ini. Puisi-puisi Indonesia yang sudah menjadi kanon, saling mereproduksi dirinya, tidak menjadi perhatian utama kurasi ini,” kata Afrizal dalam tulisan kuratorialnya.

Tentang karya yang tersebar melalui media internet, Afrizal juga memaklumi jika masih banyak kekurangannya. “Penyair-penyair ini rata-rata tinggal di kota-kota besar Indonesia, dan kurasi ini sejak awal harus mengakui kelemahannya untuk mengenali keberagamannya,” tegas Afrizal.

Dari penjelasan ini memang sepertinya ingin mewadahi para penyair yang belum memiliki karya kanon. Tapi pertanyaan lain masih menyusul; mengapa ada  penyair-penyair kawakan sekaliber Zawawi Imron dan Mustofa Bisri? Juga nama-nama lain (meski belum sedemikian kanon) yang karya-karyanya sudah banya terpublikasikan? Tak salah jika muncul kecurigaan, antologi ini tanpa konsep yang jelas. Atau melenceng dari konsep awal Tapi mungkin juga kecurigaan itu salah karena cara membaca yang juga salah. Atau?

Dari pada bingung dengan tanda tanya, mungkin sebaiknya menikmati puisi penyair internasional Ratri Ninditya yang berjudul “Gengges”. Ngapain cepet-cepet mati/di dalam kubur pasti sepi sekali/daripada di rumah/main internet/donlot film bokep/lebih baik keluar/lihat yang nyata/lihat gadis manis dengan gelembung di dada/aa ubanan dengan gelembung di celana/minum di bremer/dinner pepenero/keleleran di seven ngalayven/cipika cipiki sama selebriti kurang terkenal/futu futu waktu kalian buka kamar/hisap hisap yang asam/tiup tiup yang lain/hihihi udah ah/malu/lain kali jangan ngomongin diri sendiri melulu!zaki zubaidi

Minggu, 08 April 2012

Bagai Melancong dengan Bekal Pas-pasan


Wina Bojonegoro adalah satu dari sedikit perempuan penulis yang dimiliki negeri ini. Pemilik nama asli Endang Winarti itu sudah cukup banyak menciptakan cerita pendek (cerpen) dan sering dimuat di media-media. Dari karya yang telah terpublikasi maupun yang belum itulah Wina meluncurkan kumpulan cerpen berjudul “Korsakov” di Togamas Petra beberapa waktu lalu.

Terdapat 17 judul cerpen di dalam yang diterbitkan secara swadaya ini. Pemilihan judul antologi tersebut memang cukup membuat tanda tanya di kepala. Korsakov, jelas sebuah nama atau tempat atau entah yang asing di telinga kita. Namun yang pasti itu nama khas itu menyeret pengetahuan pembaca pada sebuah tempat  yang berada nun jauh di sana; Rusia. Tak salah jika pembaca akan memulai membaca buku ini dari cerpen berjudul “Korsakov”.

Wina memulai kisahnya dengan gaya bertutur. Melalui kalimat pembuka Kepada sahabtku; Jay, jelas bisa dipahami cerpen ini berisi sebuah surat tokoh aku kepada temannya. Sang tokoh –lewat suratnya- menceritakan perjalanannya dari tanah air menuju St Petersburg. Kepergian yang disebabkan hasrat menemui sang kekasih. Wajar ika pembaca berharap akan ikut menikmati surat tersebut dan ingin merasakan gairah tokoh aku selama perjalananya.

Nama-nama tempat dijejalkan dalam sebuah paragraf –juga paragraf yang lain. Pagi buta menyeretku tergopoh-gopoh menuju Bandara Internasional Changi yang sibuk luar biasa. Pernahkan ada ketenangan dalam hati yang tergesa-gesa menemui kekasihnya? Tidak juga aku. Dan juga ketika aku harus tidur semalam di Bandara Narita, itulah penyiksaan paling buruk dalam sejarah penantianku.

 Berselang satu paragraf, penulis kembali menjejalkan beberapa nama tempat. Dengan feri aku meninggalkan  Wakkanai, Hokkaido, membelah teluk Aniva menuju dermaga Korsakov tempat dia berdiri.

Banyak tempat yang disebutkan namun sayang rasanya nama-nama tempat itu hanya semacam buku pemandu wisata. Ada semacam keinginan penulis mengajak pembacanya menyinggahi atau setidaknya berhenti sejenak untuk menikmati udara di kota-kota tersebut. Namun sayang penulis terlalu tergesa-gesa bergerak menceritakan gelora tokoh aku, Sri Sulastri,  yang akan segera bertemu dengan kekasihnya; Nickolay Erlangga Korsakov.

Ada usaha dari penulis untuk mengisahkan pertemuan itu di sebuah rumah yang disebut mirip Grahadi namun  dalam skala kecil. Penulis juga ingin pembaca merasakan suasana pertemuan kedua tokoh (yang tetap ditutur dalam surat) dengan menyebut beberapa komposisi yang dimainkan Korsakov: Nocturne karya Chopin.  Jika saja permainan piano Korsakov bisa dibahasakan dengan lebih detil dan luwes, mungkin alunan Nocturne itu bisa ikut terlantun. Penulis hanya menyuguhkan perdebatan kedua tokoh tentang apakah Nocturne itu lagu sedih atau lagu bahagia.

Di akhir kisahnya memang lumayan mengejutkan. Kejadian pertemuan yang di alami Sri tersebut ternyata tidak nyata. Sebab diketahui sejak lima sebelum kedatangannya, Nickolay Erlangga Korsakov sedang dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma. Terasa memang cukup manis jika hanya sekadar mengatakan betapa besar kekuatan cinta dengan segala keajaibannya. Dan kisah ini tidak akan mengalami banyak perubahan jika seandainya nama-nama tempat yang dijejalkan untuk disinggahi tersebut ditiadakan.  Semacam “pelancongan” yang tergesa-gesa karena gairah yang berlebihan untuk “singgah” .

Menikmati cerpen lain berjudul “Prime Customer” beda lagi rasanya. Cerita ini dibuka dengan dialog yang vulgar dan nakal.
“Istriku frigid..”katanya pilu.
“Hmm..sykurlah...”kataku riang.
“Asem! Kamu senang ya?”
“Dengan begitu kau akan selalu datang padaku.”
“Bantulah aku.”
“Sudah.”
“Maksudku, tidak begini.”
“Lalu dengan apa?”
“Aku mencintainya.”
“Masa bodoh!”
“Asem akan kubayar.”

Tokoh lelaki itu pun membayar mahal agar pelacur langgannya itu mau mengajari istrinya bercinta.  Dengan uang yang cukup banyak sang pelacur tak kuasa menolak. Maka ia pun mencari cara untuk bisa kenal dengan istri pelanggannya itu tanpa curiga. Perkenalan yang sewajarnya antara dua perempuan.  Jejaring sosial Facebook dipilih sebagai wadah perkenalan. Sang pelacur mengundang istri pelanggannya untuk berteman dengan pencitraan palsu.

Aku pandai merangkai kalimat, aku dulu pemain teater. Dan pernah belajar menulis sastra. Ada bakat tersembunyi dalam hal itu. Jangan pernah mengkhawatirkan kemampuanku merangkai kata. Kemudian aku mengkopi tulisan-tulisan para ahli pembuat kata-kata mutiara, sebagai status harianku. Ini penting, pencitraan sangat dibutuhkan sebagaibentuk aktualisasi diri. Jelas-jelas paragraf yang janggal. Entah kesengajaan atau keteledoran.

Singkat cerita kedua perempuan ini akrab. Pelacur berhasil membuat istri pelanggannya itu berubah.  Namun istri yang kolot itu malah berubah liar dan jarang di rumah. Pelanggan jadi kesepian. Ia pun ingin ditemani pelacur. Tapi sang pelacur menolaknya. Pelacur itu lebih memilih menjalin kasih dengan istri pelanggannya. Cinta sesama jenis.

Malam ini aku ingin merayakan sesuatu, sebuah awal kehidupan baru. Perempuan itu datang, melambai. Dia terlihat sangat feminine, langsing, tersenyum segar, dan parfumnya yang lembut menggoda saraf-sarafku. Aku menyerahkan senyum terbaik untuknya. Hari ini akan kuserahkan malam untuknya.

Mengakhiri cerita dengan luar biasa memang penting. Tapi kejutan itu tidak bisa didatangkan tiba-tiba tanpa alasan.  Seorang Anton Chekov pun dengan karya-karyanya yang selalu meledak di akhir, tetap membangun alasan itu hal itu. Ending yang meng-KO pembaca sudah dipersiapkan sejak awal.

Namun ini hanya sebatas menikmati sebuah karya. Kenikmatan yang didapat mungkin tidak sama antara pembaca yang satu dengan yang lain. Apapun hasil sebuah pembacaan, peluncuran kumpulan ini adalah memberi warna dan meramaikan kesustraan Indonesia yang nyaris kehilangan perempuan-perempuan penulisnya.

Akhirnya, dari beberapa testimoner buku ini mungkin hanya Budi Darma yang memberikan kritiknya. Ia mengatakan cerpen Korsakov terlalu “touristic”, tapi segala sesuatunya serba sepintas, tidak ada pendalaman. Sekarang sudah banyak orang mengenal luar negeri. Cerpen ini, sementara itu, banyak bercerita mengenai luar negeri, apalagi sifatnya hanya sepintas-pintas, dan karena itu, tidak terasa unsur eksotisnya. zaki zubaidi

Membaca Religiusitas Kaum Marjinal


YB Manungwijaya menyatakan pada awal mula segala sastra adalah religius.
Religiusitas sastra dalam konteks ini adalah substansi pemikiran yang ada dalam karya sastra yang mengarah pada problema tokoh sentral cerita sebagai manusia yang mengalami religare; keterikatannya pada Tuhan. Secara tematis, karya sastra mengungkapkan perjalanan kehidupan manusia yang senantiasa mesti kembali pada keterbatasan dan kefanaannya sebagai makhluk.

Tema inilah yang terbaca mendominasi antologi cerita pendek (cerpen) “Tentang Kami Para Penghuni Sorter”. Kumpulan karya sembilan cerpenis Mojokerto ini dibedah oleh Mashuri (sastrawan) dan Akhudiat (budayawan) di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (11/2). Diskusi ini diselenggarakan Jurusan Teater STKW Surabaya bekerja sama dengan Dewan Kesenian Surabaya dan Dewan Kesenian Jatim.

Kembali kepada karya. Ternyata antologi ini memang menyuguhkan keberagaman kualitas. Bukan bermaksud menghakimi sebuah karya itu baik atau buruk, namun hanya beberapa karya saja yang bisa dianggap “matang”. Itu bukan sebuah persoalan karena memang kematangan penulis itu akan diraih dari sebuah proses kreatif yang panjang. Dan salah proses menuju kematangan itu adalah membedah karya tersebut.

Religiusitas -kaum marjinal-  memang sangat kental menjadi tema antologi ini. Banyak cara yang bisa dipilih untuk menyampaikannya. Pendalaman terhadap persoalan hidup akan nampak pada kekayaan dan kepadatan estetika dan wawasan pengarang. Kematangan inilah yang bisa membuat sebuah penyampaian religiusitas itu tidak klise. Banyak keformalan yang menganggu kedalaman religiusitas yang sebenarnya bisa disampaikan dengan cara yang tidak formal.

Seperti dalam cerpen berjudul “Catatan Seorang Tuna Netra” karya Atina Nabila.  Cerpen itu berkisah tentang tokoh “aku”, seorang tunanetra yang malang, seorang lelaki tak berdaya, yang sedang mencari titik eksistensial dalam alur hidupnya. Tokoh adalah sosok remeh yang sedang berproses untuk menghargai hidup, yang terbuang oleh keluarganya. Ia bersandar pada sisi manusiawi, yang pada titik tertentu terlihat tegar, di sisi lainnya rapuh.

Pada momen tertentu, ia merasa tak berdaya. Tetapi pada momen lainnya, ia akan berucap “Aku memang buta tapi aku bukan manusia lemah”. “Dalam kontradiksi itulah, tokoh yang mengingatkan saya pada para penghapal Alquran yang buta itu, menyandarkan dirinya pada kekuatan di luar diri, yaitu Tuhan. Alhasil, nasib pun berpihak padanya. Ia bahagia dengan dirinya,” kata Mashuri yang juga Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jatim.

Namun, terasa ada yang mengganjal dari cerpen ini. Dominasi pesan seakan meruntuhkan bangunan teksnya. Tiga paragraf terakhir adalah inti dari cerpen ini tetapi sekaligis titik lemahnya. Sangat klise Selain itu, mengangkat orang buta, dengan sudut pandang aku-an, adalah mentranser segala kebutaan dalam perspektif yang subyektif. Bagaimana pembaca bisa merasakan “kegelapan”-nya.

Tetapi dalam cerpen ini, sangat terasa bagaimana tokoh “aku” berkisah tentang dirinya dan memandang sebagai “orang yang melihat”. Jika ia bertumpu pada “aku”  yang buta, tentu pembaca akan mendapatkan begitu banyak kabar dan warna dari “dunia kegelapan” sana, yang siapa tahu bisa mencipta “terang” di sini, di mata pembaca.  
Tiga paragraf terakhir tersebut: Kebanyakan manusia menggunakan matanya untuk melihat sesuatu yang tidak halal dan untuk menarik perhatian lawan jenis.

 Aku bersyukur atas semua takdir Allah yang diberikan kepadaku. Mungkin ini yang terbaik. Buta ini membawa berkah untukku. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita banyak kenikmatan.

Dan terima kasih Ya Allah, karena Engkau telah membukakan pintu hati kedua orang tuaku, sehingga aku kini dianggap oleh mereka sebagai anak mereka. Sempurnalah kini hidupku karena semua rencana-Mu. Thanks God.

Religiusitas  wong cilik juga bisa dilihat pada cerpen “Penghuni Sorter” karya Hardjono WS. Sekilas bisa dikatakan, cerpen “Penghuni Sorter” adalah cerpen yang bercerita tentang orang kecil dengan teknik cerita berbingkai. “Pusatnya adalah Mak Mah, yang mampu menyeret begitu banyak cerita lainnya,” tegas Mashuri.

Cerpen ini menuju taraf  “poliponik” (begitu banyak suara dari sebuah cerita). Bahkan, pada kadar tertentu bisa dikatakan sebagai cerita tanpa “cerita”. Masing-masing unsurnya saling menopang dan berjalan begitu saja, lewat dialog tokoh-tokohnya, dan narasi dari pencerita (narator). Religiusitas mengalir secara integral dalam alurnya dan penokohan/ perwatakan, termasuk di dalamnya adalah pandangan/laku hidup tokoh Mak Pah pada alur hidup dan nasib.

“Dalam cerpen, saya juga menemukan adonan antara ironi, satir, dan humor pahit. Nilai-nilai lokalitas berpadu universalitas. Yang tetap berkelit-kelindan dengan yang berubah. Orang-orang kecil datang dan pergi untuk menjadi orang besar. Sentilan sisi kemanusiaannya juga besar. Cerpen ini prototripe sastra yang terlibat (memihak) tanpa mengorbankan nilai sastranya,” paparnya.

Mak Pah pun bisa menyampaikan religiusitasnya dengan sederhana namun mengena. Berikut dialog Mak Pah dengan tokoh “Aku” tentang anak.  “Nggak usah ikut KB sebenarnya,” katanya tiba-tiba. “Itu urusan Tuhan, seperti saya sendiri. Beberapa kali saya minta anak, tetapi tidak seorang pun Tuhan berikan. Kenapa harus kau bunuh anak-anakmu yang mestinya diberi Tuhan kepadamu?” Kata Mak Pah.

Tujuh cerita lain yang terkumpul dalam antologi ini adalah “Rebiin” karya Akhmad Fatoni, “Yang Dibunuh Cerita-Cerita” karya Dadang Ari Murtono, “Tukang Semir Sepatu” karya Jack Effendi, “Tentang Kami” karya Jr Dasamuka, “Payung” karya Mochammad Asrori, “Negeri Dongeng” karya Nasrulloh Habibi, serta “Purnama Di Tepi Sungai Brantas” karya Rais Muhamad KS. Mereka adalah anggota Komunitas Arek Japanan (KAJ) Mojokerto.  

“Ini adalah proses kami. Selanjutnya terserah para pembaca menyikapi kelahiran antologi ini. Entah mau memaki, memuji, menggunjing ataupun mengucilkan kami, kami akan siap menerimanya. Karena kami telah berikrar  bahwa kami lahir bukan karena terpaksa, tetapi kami lahir dari ketulusan jiwa,” kata Akhmad Fatoni yang juga Ketua KAJ.zaki zubaidi